Hadis-hadis Palsu di Sekitar Kita
Studi Hadis di Indonesia masih sangat jarang, atau bisa dikatakan sangat langka. Kelangkaan ini bisa menimbulkan banyak persoalan, khususnya berkaitan dengan banyaknya Hadis palsu di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Hadis seperti "Carilah ilmu meskipun di negeri Cina, karena mencari ilmu itu wajib bagi setiap Muslim" atau "Perbedaan (pendapat) umatku adalah rahmat", menurut pakar Hadis, Prof KH Ali Mustafa Yaqub MA, ternyata palsu. Keadaan seperti ini tentu tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Sebab, Hadis adalah sumber hukum Islam kedua setelah al-Qur'an.Bagaimana cara mengetahui bahwa sebuah Hadis itu ternyata palsu? Bagaimana pula cara kita menyikapinya? Berikut petikan wawancara dengan pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah, Ciputat, Jakarta, ini.
Di kalangan umat sering terjadi perdebatan soal keshahihan sebuah Hadis. Ada kata-kata mutiara dianggap Hadis. Orang yang mencoba meluruskannya malah dimarahi. Bagaimana Anda melihat fenomena ini?
Studi Hadis di Indonesia masih sangat jarang, atau bisa dikatakan sangat langka. Kelangkaan ini bisa menimbulkan banyak persoalan, khususnya berkaitan dengan banyaknya Hadis palsu di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Hadis seperti "Carilah ilmu meskipun di negeri Cina, karena mencari ilmu itu wajib bagi setiap Muslim" atau "Perbedaan (pendapat) umatku adalah rahmat", menurut pakar Hadis, Prof KH Ali Mustafa Yaqub MA, ternyata palsu. Keadaan seperti ini tentu tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Sebab, Hadis adalah sumber hukum Islam kedua setelah al-Qur'an.Bagaimana cara mengetahui bahwa sebuah Hadis itu ternyata palsu? Bagaimana pula cara kita menyikapinya? Berikut petikan wawancara dengan pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah, Ciputat, Jakarta, ini.
Di kalangan umat sering terjadi perdebatan soal keshahihan sebuah Hadis. Ada kata-kata mutiara dianggap Hadis. Orang yang mencoba meluruskannya malah dimarahi. Bagaimana Anda melihat fenomena ini?
Kasus ini menunjukkan bahwa mereka yang komplain tidak pernah belajar dan membaca Hadis. Hadis itu didengar dari mulut ke mulut. Apalagi kalau yang menyampaikan itu adalah gurunya, sudah tidak membantah lagi. Orang Indonesia ini umumnya apa kata guru. Tapi dengan fenomena ini, kemudian membaca, memahami, dan mendiskusikan dengan gurunya mungkin gurunya akan diam dan tidak punya argumen apapun. Selesai sudah masalahnya. Diam berarti menerimanya.
Mengapa umat Islam teledor?Mereka tidak mau memelajari masalahnya, makanya tidak tahu. Boro-boro mereka bilang Hadis shahih, hasan, dan dhaif, yang bukan Hadis saja di klaim sebagai Hadis. Itu gejala umum. Bahkan kadang-kadang hal itu disampaikan oleh mereka yang tergolong intelektual.Banyak orang, baik profesor, doktor, mengambil Hadis tidak selektif sama sekali. Karena mereka tidak mau memelajari Hadis itu. Yang mereka pelajari adalah pelajaran-pelajaran keislaman yang lainnya.
Contohnya apa?
Mengapa umat Islam teledor?Mereka tidak mau memelajari masalahnya, makanya tidak tahu. Boro-boro mereka bilang Hadis shahih, hasan, dan dhaif, yang bukan Hadis saja di klaim sebagai Hadis. Itu gejala umum. Bahkan kadang-kadang hal itu disampaikan oleh mereka yang tergolong intelektual.Banyak orang, baik profesor, doktor, mengambil Hadis tidak selektif sama sekali. Karena mereka tidak mau memelajari Hadis itu. Yang mereka pelajari adalah pelajaran-pelajaran keislaman yang lainnya.
Contohnya apa?
Ada seorang profesor doktor ceramah dalam peringatan Isra' Mi'raj di Masjid Istiqlal Jakarta. Saat itu hadir Presiden BJ Habibie. Mungkin karena ingin mendorong supaya orang meningkatkan mutu sumberdaya manusia (SDM), maka penceramah menyitir kalimay yang dianggap sebuah Hadis. Kalau tak salah teks Arabnya berbunyi: Man araadad dunya fa'alaihi bil 'ilmi, wa man araadal akhirata fa'alaihi bil 'ilmi, wa man araada huma fa'alaihi bil 'ilmi. Kalimat ini populer sekali di pesantren-pesantren. Ternyata ini adalah ucapan Imam Syafi'i. Ini ada dalam juz awal kitab al-Majmu’ karya Imam Nawawi. Imam Nawawi menukil ucapan-ucapan langka dari Imam Syafi’i. Imam Syafi'i mengatakan: Man araadad dunyaa fa'alaihi bil 'ilmi, wa man araadal aakhirata fa'alaihi bil 'ilmi. Itu saja sudah. Kalimat yang ketiga itu adalah tambahan orang-orang.Jadi, kata-kata itu adalah ucapan Imam Syafi'i. Cuma mungkin maknanya bagus sekali sehingga kemudian untuk memantapkannya orang menyebut ini Hadis Nabi. Ketika satu orang mengatakan ini Hadis Nabi, orang lain yang mendengarnya langsung mengatakan Hadis. Ucapan ini terus menular kepada yang lain, sementara yang meneliti tidak ada. Contoh kedua adalah soal peran wanita. Al mar'atu 'imaadul bilaad, idza shaluhat shaluhatil bilaad, wa idza fasadat fasadatil bilaad. Kalimat ini dikatakan sebagai Hadis. Padahal dicari-cari tidak pernah ada. Itu hanya kata-kata mutiara yang diklaim Hadis. Gejala seperti ini dulu parah sekali. Alhamdulillah sekarang sudah ada orang yang belajar Hadis dan Ilmu Hadis sehingga mulai ada yang mengingatkan, meluruskan.
Umat Islam tidak bisa membedakan mana Hadis dan mana yang bukan Hadis. Sebenarnya sejak kapan fenomena ini mulai muncul?
Umat Islam tidak bisa membedakan mana Hadis dan mana yang bukan Hadis. Sebenarnya sejak kapan fenomena ini mulai muncul?
Pemalsuan Hadis sudah ada sejak sekitar dekade keempat hijriah. Yang memelopori pemalsuan Hadis adalah kelompok-kelompok politik. Setelah masa Khulafaur Rasyidin --masa pemerintahan Abubakar, Umar, Utsman, Ali-- muncul polarisasi di kalangan umat Islam. Ada yang pro-Ali bin Abithalib. Mereka membentuk kelompok Syiah. Kemudian ada yang anti-Ali. Mereka melakukan pemboikotan hingga disebut kaum Khawarij. Ada pula yang mengambil posisi di tengah-tengah yang namanya kaum Ahlussunah wal jama'ah. Kadang-kadang kelompok-kelompok itu, dalam rangka mendukung kelompok politiknya, mencari ayat-ayat dukungan. Kalau ayat pendukung tidak ada maka mereka mencari Hadis. Kalau dalam Hadis juga tidak ada, mereka berani mencoba membuat Hadis palsu untuk kepentingan politiknya. Contohnya seperti hadis: 'Aliyyun khairul basyar fa man ankara faqad kafar (Ali RA adalah sebaik-baik manusia, siapa yang mengingkari dia akan kafir). Ini sudah ketahuan sekali siapa yang membikin. Pasti orang-orang yang mengultuskan Ali. Jadi yang membikin Hadis palsu ini adalah kelompok politik. Tapi dalam proses sejarah berikutnya justru yang paling banyak ini adalah kelompok tasyawuf. Karena apa? Kelompok tasyawuf ini melihat dunia sudah bobrok, akhlak sudah rusak, sehingga untuk mengembalikan ke jalan yang benar, jalan agama, mereka membikin Hadis-hadis yang menggembirakan mereka. Hal ini misalnya dilakukan oleh seseorang yang tinggal di Irak pada akhir abad kedua hijriah. Dia adalah Abu 'Ishmah Nuh bin Abu Maryam al Marwazi. Ia mengaku telah membuat Hadis yang berkaitan dengan fadhilah atau keutamaan al-Qur'an. Ia menyebutkan alasannya: Saat ini banyak orang yang tidak mau membaca dan memelajari al-Qur'an karenanya saya membuat Hadis-hadis itu agar orang kembali memelajari al-Qur'an.Kelompok sufi banyak membuat Hadis seperti itu. Problemnya, di kelompok sufi ada sebuah ajaran yang mengatakan bahwa orang itu bisa bertemu dengan Muhammad SAW dalam keadaan terjaga. Jadi Nabi Muhammad datang kembali. Di kalangan sufi, keshahihan Hadis itu tidak ditentukan seperti yang ditentukan dalam Ilmu Hadis.
Lalu, apa syarat keshahihan sebuah Hadis?
Lalu, apa syarat keshahihan sebuah Hadis?
Pertama, sanadnya muttashil. Kedua, sanadnya terdiri dari rawi-rawi yang adil dan dhabith. Ketiga, tidak ada syadz dan tidak ada illat. Ini kaidah-kaidah yang disepakati oleh ahli-ahli Hadis. Tapi para sufi punya pendapat yang lain. Ada dua metode yang mereka gunakan yaitu ilham dan liqa an Nabi. Kalau menurut ilham mereka bahwa Hadis ini shahih, ya shahih. Ilham itu kalau diistilahkan dalam bahasa Jawa: weruh sak durunge winarah. Tahu sebelum diberi tahu atau tahu sebelum belajar. Kalau menurut dia Hadis ini shahih, ya shahih sudah. Problem di kalangan sufi seperti itu.Problem kedua, di kalangan sufi ada ajaran bahwa Nabi itu sering bertemu dengan orang-orang yang masih hidup. Ketika ketemu, Nabi menyampaikan pesan-pesan. Nah, pesan-pesan itu adalah Hadis. Makanya di kitab-kitab tasawuf itu banyak Hadis palsu. Kalau menurut gurunya shahih, ya sudah sang murid ikut saja. Karena itu metode ahli Hadis dengan metode ahli sufi itu tidak akan pernah ketemu. Jadi menurut ahli tasawuf, sekarang masih muncul Hadis-hadis kalau mereka menggunakan metode ilham tadi. Tapi, ilham itu kan relatif. Siapa yang dapat membuktikan bahwa seseorang mendapat ilham?Hadis-hadis yang diperoleh dari ahli-ahli sufi itu enak-enak. Amalannya sedikit, pahalanya banyak. Nah, itu kemudian laris. Para muballigh ramai-ramai menyebarkan Hadis itu. Apalagi di Indonesia yang dunia tasawufnya lebih kental daripada dunia Hadis.
Bagaimana mengamalkan Hadis yang seperti itu?
Bagaimana mengamalkan Hadis yang seperti itu?
Kalau kembali kepada Ilmu Hadis tidak boleh jika memang sampai masuk pada tingkat yang parah sekali. Hadis dha'if itu boleh dikerjakan selama dha'if-nya tidak parah, tidak termasuk yang palsu, munkar, dan sebagainya. Kedua, ada dalil lain yang mendukung, baik al-Qur'an atau Hadis yang semakna. Seperti: Hubbud dunya ra'su kulli khatiah. Mencintai dunia adalah pangkal segala kejahatan. Hadis itu dha'if karena terputus sanad-nya. Hadis itu diriwayatkan oleh Imam Hasan Basri langsung dari Nabi padahal Hasan Basri itu adalah tabi'in. Makanya Hadis seperti itu munqathi'. Dan yang ketiga adalah tidak menisbatkan bahwa itu sebagai ucapan Nabi.
Bagaimana cara mengetahui sebuah Hadis itu palsu, dha'if, dan sebagainya?
Bagaimana cara mengetahui sebuah Hadis itu palsu, dha'if, dan sebagainya?
Ilmu Hadis yang akan menjawab. Kita teliti sanad-nya, munqathi' atau tidak, bersambung atau tidak. Kita teliti rawi-rawinya, adil, dhabith atau tidak. Kalau diketahui sanad-nya putus, Hadisnya berarti dha'if, munqathi'. Kalau rawinya ada yang pembohong, Hadisnya palsu. Kita juga memelajari dan meneliti sanadnya. Misalnya dalam sanadnya ada tujuh orang, kita teliti apa orang ini bertemu dengan ini, dia bertemu dengan dia, dan sebagainya. Kalau salah satunya ada yang pemalsu Hadis, berarti Hadisnya palsu.
Bagaimana menyikapi kitab yang disadur dari Hadis-hadis dha'if atau palsu?
Bagaimana menyikapi kitab yang disadur dari Hadis-hadis dha'if atau palsu?
Pertama, kalau dha'if-nya tidak parah seperti tadi, itu boleh. Makanya kita harus selektif. Kita sampaikan atau pakai Hadis-hadis yang shahih, yang sesuai dengan al-Qur'an, tapi yang Hadis palsu tidak perlu kita sampaikan. Maka bagi pembaca kitab-kitab salaf hendaknya harus teliti. Kalau tidak bisa meneliti ia harus belajar Ilmu Hadis. Tapi kenyataannya dia tidak memelajari. Karenanya ketika ada orang mengatakan bahwa itu Hadis palsu atau bukan Hadis, dia kaget. Misalnya tentang kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha. Itu kan sudah mendarah daging di Indonesia. Padahal itu kisah bohong. Tidak pernah Nabi Yusuf itu pacaran dengan wanita yang namanya Zulaikha, apalagi menikah dengannya. Nah, itu harus dilakukan penelitian dulu. Kisah Nabi Yusuf dengan Zulaikha itu adalah palsu belaka. Al-Qur'an maupun Hadis tidak pernah menggambarkannya.
Bukankah kisah tentang Nabi Yusuf dan Zulaikha ini banyak dirujuk dari al-Qur'an?
Bukankah kisah tentang Nabi Yusuf dan Zulaikha ini banyak dirujuk dari al-Qur'an?
Anda berani membuka al-Qur'an dan menunjukkan kepada saya di mana ada kisah itu? Di mana ada kata-kata Zulaikha disebutkan?
Jika sudah semakin ngawur, apa kita perlu membuat institusi atau lembaga pemerintah untuk meneliti Hadis-hadis palsu di Indonesia?
Jika sudah semakin ngawur, apa kita perlu membuat institusi atau lembaga pemerintah untuk meneliti Hadis-hadis palsu di Indonesia?
Di Departemen Agama dulu sudah disepakati untuk dibentuk. Istilahnya, Himpunan Peminat Ilmu Hadis dalam rangka melakukan kajian dan penelitian terhadap Hadis. Tapi sekarang saya tidak tahu kelanjutannya. Namun kalau ingin mendeteksi palsu tidaknya Hadis bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama, bisa diperoleh dari pengakuan pemalsu seperti yang dilakukan Abu 'Ishmah Nuh bin Abu Maryam al Marwazi. Kemudian bisa melalui penelusuran pada perawi, kapan ia lahir, kapan gurunya lahir. Jika gurunya wafat sebelum ia lahir maka belum tentu Hadis itu langsung dari gurunya. Ini perlu penelitian.
//Ali Mustafa Yaqub lahir di Batang, Jawa tengah, 2 Maret 1952. Pada 1966 ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Sablak, Jombang, Jawa Timur. Kemudian Ali melanjutkan di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, hingga masuk ke Fakultas Syariah Universitas Hasyim Asy'ari, Tebuireng. Di Tebuireng ia menekuni kitab-kitab kuning di bawah asuhan para kiai sepuh seperti KH Idris Kamali, KH Adlan Ali, KH Shobari, dan KH Syamsuri Badawi. Saat mondok, Ali juga menjadi pengajar bahasa Arab hingga awal tahun 1976.Pada 1976 Ali menempuh pendidikan di Fakultas Syariah Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, Arab Saudi. Ia lulus tahun 1980 dengan mendapat ijazah Licance. Masih di kota yang sama, ia melanjutkan di Jurusan Tafsir dan Hadis di Universitas King Saud dengan memeroleh ijazah Master tahun 1985. Mantan Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Islam Indonesia ini pulang ke Indonesia dan mengajar di Institut Ilmu al-Qur'an (IIQ) Jakarta, Institut Studi Ilmu al-Qur'an (ISIQ/PTIQ) Jakarta, Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STIDA) al-Hamidiyah, dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah --kini Universiatas Islam Negeri (UIN)-- Jakarta. Pada 1989, bersama keluarganya, ia mendirikan Pondok Pesantren Darussalam di tanah kelahirannya.Selain aktif di dunia pendidikan, berbagai tanggung jawab telah diembannya, antara lain: sekretaris jenderal (Sekjen) Pimpinan Pusat Ittihadul Muballighin, ketua Lembaga Pengkajian Hadis Indonesia (LepHi), wakil ketua Dewan Syariah dan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, imam besar Masjid Istiqlal, Jakarta, dan pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah, Ciputat, Jakarta. Berbagai buku tentang Hadis dan permasalahannya telah ia terbitkan. Bukunya antara antara lain: Imam Bukhari dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadis, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, Pembela Eksistensi Hadis, Peran Ilmu Hadis, Hadis-Hadis Bermasalah, dan Kritik Hadis//
//Ali Mustafa Yaqub lahir di Batang, Jawa tengah, 2 Maret 1952. Pada 1966 ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Sablak, Jombang, Jawa Timur. Kemudian Ali melanjutkan di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, hingga masuk ke Fakultas Syariah Universitas Hasyim Asy'ari, Tebuireng. Di Tebuireng ia menekuni kitab-kitab kuning di bawah asuhan para kiai sepuh seperti KH Idris Kamali, KH Adlan Ali, KH Shobari, dan KH Syamsuri Badawi. Saat mondok, Ali juga menjadi pengajar bahasa Arab hingga awal tahun 1976.Pada 1976 Ali menempuh pendidikan di Fakultas Syariah Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, Arab Saudi. Ia lulus tahun 1980 dengan mendapat ijazah Licance. Masih di kota yang sama, ia melanjutkan di Jurusan Tafsir dan Hadis di Universitas King Saud dengan memeroleh ijazah Master tahun 1985. Mantan Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Islam Indonesia ini pulang ke Indonesia dan mengajar di Institut Ilmu al-Qur'an (IIQ) Jakarta, Institut Studi Ilmu al-Qur'an (ISIQ/PTIQ) Jakarta, Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STIDA) al-Hamidiyah, dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah --kini Universiatas Islam Negeri (UIN)-- Jakarta. Pada 1989, bersama keluarganya, ia mendirikan Pondok Pesantren Darussalam di tanah kelahirannya.Selain aktif di dunia pendidikan, berbagai tanggung jawab telah diembannya, antara lain: sekretaris jenderal (Sekjen) Pimpinan Pusat Ittihadul Muballighin, ketua Lembaga Pengkajian Hadis Indonesia (LepHi), wakil ketua Dewan Syariah dan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, imam besar Masjid Istiqlal, Jakarta, dan pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah, Ciputat, Jakarta. Berbagai buku tentang Hadis dan permasalahannya telah ia terbitkan. Bukunya antara antara lain: Imam Bukhari dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadis, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, Pembela Eksistensi Hadis, Peran Ilmu Hadis, Hadis-Hadis Bermasalah, dan Kritik Hadis//
Tidak ada komentar:
Posting Komentar